Kehidupan penuh makna di Kampung Naga Tasikmalaya

Kehidupan penuh makna di Kampung Naga Tasikmalaya

Perjalanan yang kami tempuh dari bekasi ke Kampung Naga cukup panjang, sekitar 5 jam. Namun lamanya perjalanan terobati dengan indahnya pemandangan yang disuguhkan sejak Garut hingga memasuki Tasikmalaya. Hamparan sawah hijau luas dengan latar belakang barisan pegunungan dan bukit bukit sangat menyegarkan mata dan pikiran. Apalagi ketika sudah memasuki Tasikmalaya, pemandangan sawah terasering di lembah dan bukit akan menemani perjalanan kita. Tidak kalah dengan terasering yang ada di Ubud Bali.

Pemandangan sawah terasering
Pemandangan sawah terasering

Mendekati lokasi, terlihat plang penunjuk arah di sebelah kanan jalan untuk ke Kampung Naga. Kampung Naganya sendiri berada di sebelah kiri jalan yang ditandai dengan gerbang dan pelataran parkir luas begitu kita belok ke kiri jalan raya. Kami langsung disambut oleh warga berseragam adat warna hitam dengan topi khas Sunda, mereka menjelaskan bahwa tidak ada tarif khusus untuk memasuki kampung ini, karena ini merupakan kampung adat dan bukan tempat wisata. Untuk itu diserahkan kepada keikhlasan pengunjung untuk menyumbang bagi perbaikan fasilitas kampung. Untuk mengelilingi kampung ini bisa dilakukan sendiri atau jika ingin mendengarkan sejarah dan philosophy hidup masyarakat Kampung Naga, saya sarankan untuk minta didampingi oleh salah satu pemandu wisata yang akan ditunjuk secara bergiliran, dan kami memperoleh kesempatan didampingi oleh Mang Ijat.

Perjalanan menuruni 439 anak tangga
Perjalanan menuruni 439 anak tangga

Kampung Naga terletak di bawah lembah, untuk menempuhnya kita harus menuruni 439 anak tangga. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga 30 menit untuk sampai ke bawah. Namun perjalanan tidak akan terasa karena disuguhi pemandangan sawah, bukit dan penampakan Kampung Naga yang sudah terlihat keindahan dan keunikannya dari kejauhan.

Finger painting pelukis jalanan di Kampung Naga
Finger painting pelukis jalanan di Kampung Naga

Ditangga kami bertemu penjual lukisan yang melukis dengan jari tangannya tanpa kuas. Hasil lukisannya bagus dengan harga yang cukup wajar mulai dari Rp10.000 untuk ukuran postcard hingga Rp30.000 untuk ukuran folio. Jika Anda membeli, nama Anda akan dituliskan di lukisan tersebut.

Kampung Naga dari kejauhan
Kampung Naga dari kejauhan

Setelah tangga terakhir, terlihat sungai dengan air terjun irigasi. Kami memanfaatkan pemandangan ini dengan beristirahat sambil piknik menikmati bekal makan siang yang sudah di bawa dari rumah. Mang Ijat membantu menuntun kami menyusuri sungai mencari batuan yang aman untuk diinjak dan menyingkirkan ranting-ranting agar mudah dilalui. Anak anak sangat senang, duduk di pinggir sungai dengan kaki direndamkan ke air menikmati aliran sungai, menikmati makan siang sambil memandang air terjun dengan latar belakang sawah di sekelilingnya. Sejuknya…😍😍

Senangnya setelah piknik di pinggir sungai😍
Senangnya setelah piknik di pinggir sungai😍

Setelah selesai makan, dengan berat hati kami meninggalkan sungai mengingat waktu sudah menunjukkan hampir jam 2 siang. Sekitar 10 menit jalan kaki menikmati pemandangan sawah, sampailah kami di tujuan. Perkampungan dengan bangunan berwarna putih dan atap menggunakan ijuk terlihat cantik dan unik dengan nuansa warna hitam dan putih.

Kampung ini ternyata sudah terkenal ke mancanegara. Banyak turis mancanegara yang berkunjung ke desa ini baik dalam kelompok kecil maupun rombongan bus pariwisata. Saat kami berkunjung, kami bertemu 3 kelompok kecil turis dari Belanda, Prancis dan Jerman.

Kampung Naga dikelilingi sawah dan bukit
Kampung Naga dikelilingi sawah dan bukit

Kampung ini terdiri dari 113 bangunan yang dihuni oleh 110 kepala keluarga dengan jumlah 339 jiwa (data per Juli 2017 saat kami berkunjung). Sedangkan 3 bangunan lagi merupakan Masjid, Balai Adat dan balai serbaguna. Bangunan rumah di Kampung ini dibangun dengan desain yang sama, ukuran yang sama dan semuanya mengikuti aturan yang ditetapkan oleh adat.

Dapur yang masih menggunakan tungku kayu
Dapur yang masih menggunakan tungku kayu

Bangunan paling luas di kampung ini adalah masjid. Tujuan penyeragaman desain dan luas bangunan rumah ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kesenjangan sosial di kampung ini. Masyarakat menjalani hidup secara sederhana, rukun dan sangat islami dengan menjalankan sunah Rasulullah Muhammad.

Masjid dan bedug di Kampung Naga
Masjid dan bedug di Kampung Naga

Ada hal menarik, kampung ini tidak dialiri listrik. Bukan karena tidak memperoleh perhatian dari pemerintah setempat namun karena keingininan dan kesepakatan warga untuk menghindari kemajuan duniawi yang mereka khawatirkan dapat merubah kesederhanaan dan kerukunan mereka. Pemerintah dan PLN bahkan pernah menawarkan untuk mengaliri listrik dengan membebaskan biaya selamanya kepada warga Kampung Naga, namun mereka tetap teguh dengan pendirian mereka membiarkan kampung mereka seperti apa adanya.

Bentuk atap, pintu, warna dan luas rumah yang seragam
Bentuk atap, pintu, warna dan luas rumah yang seragam

Dan hal ini terbukti sukses menjaga kerukunan warga, menurut Mang Ijat sejak berdirinya kampung naga belum pernah terjadi perselisihan dan pertengkaran berarti antar tetangga. Karena yang bertahan hidup di kampung ini hanyalah warga yang setia dan siap menjalani ketentuan adat.

Kesederhanaan dan ketulusan warga kampung ini memang sangat terasa sejak di tempat parkiran hingga kami masuk perkampungan. Senyuman dan sambutan tulus yang saat ini sudah langka kita temukan di desa desa objek wisata di Indonesia, bertebaran di kampung ini. Tidak ada yang berebut menawarkan jasa maupun dagangan kepada pengunjung. Mereka hanya menunggu pengunjung memasuki warung mereka dan harganya pun cukup murah.

Kerajinan tangan yang dijual warga
Kerajinan tangan yang dijual warga

Semoga kesederhanaan dan kerukunan warga Kampung Naga tetap terjaga ya..

——————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *