Indonesia Cakepnya Kebangetan! (Indahnya Kawah Ijen)

Indonesia Cakepnya Kebangetan! (Indahnya Kawah Ijen)

Berkunjung ke kawah ijen melalui Surabaya Agustus 2017 lalu cukup menguras waktu. Kurang lebih butuh 7-8 jam perjalanan untuk sampai ke sana dengan mobil. Walaupun kondisi jalan di Jawa Timur bagus, namun jumlah kendaraan yang banyak membuat jalanan padat. Sebagai alternatif jika tidak ingin lama di jalan bisa menggunakan pesawat dari Surabaya ke Banyuwangi.

Kami sampai di kawasan Kawah Ijen jam 21.00 malam. Gerbang menuju pendakian Ijen masih ditutup dan baru akan dibuka pada pukul 01.00 dinihari. Sambil menunggu jadwal pendakian, kami manfaatkan untuk istirahat dengan tidur di mobil. Suhu di parkiran sudah sangat dingin sekitar 10-15 Celcius. Untungnya kami sudah siap dengan jaket yang memadai, namun tetap saja menggigil kedinginan.

Tepat jam 01.00 dinihari gerbang dibuka dan pengunjung antri membeli tiket. Tarif tiket untuk wisatawan lokal Rp. 5 ribu sedangkan untuk wisatawan asing Rp. 100 ribu.

Berhubung kami hanya bertiga dengan anggota wanita semua (saya, kakak saya Emil dan teman dari Surabaya Bude Ismi) dan tidak ada yang berpengalaman mendaki gunung serta tidak pula membawa lampu senter untuk penerangan (judulnya emak emak nekat😄😄) maka kami memutuskan untuk menggunakan jasa guide dengan tarif Rp.200 ribu. Keuntungan lainnya jika dengan guide, kita bisa minta tolong bawain tas jika udah teler dan ngos-ngosan nanjak.

Trio emak nekat😍
Trio emak nekat😍

Bagi yang tidak sanggup berjalan kaki, tersedia banyak sewa gerobak troly yang ditarik oleh 3 orang (mereka menyebutnya taksi) dengan sewa Rp.600-800 ribu bolak balik sampai kembali ke parkiran. Atau bisa juga untuk naik saja seharga Rp.300-500 ribu dan turun saja dengan tarif Rp.100-200 ribu. Tarif tersebut terdengar mahal, namun jika sudah sampai di atas dan melihat perjuangan mereka menarik taksi gerobak ke atas, kita akan maklum. Apalagi tarif tersebut mereka bagi 3 setelah dikurangi setoran kepada pengelola. Ngga perlu malu naik taksi gerobak, bule remaja aja juga ngos ngosan nanjak ke ijen😄

Taxi Gerobak & beautiful view
Taxi Gerobak & beautiful view

Di luar dugaan, ternyata pengunjung sangat ramai walaupun saat itu hari kamis dini hari. Dan sebagian besar adalah wisatawan asing. info dari Pak Roso guide kami, malam sebelumnya total pendaki sebanyak 8.000 orang dan jika sabtu minggu bisa lebih banyak lagi.
Luar biasa rameee.. jadi walaupun pendakian dilakukan dini hari namun tidak perlu khawatir karena insya allah aman dan orang orang lokal juga baik baik tidak ada scam atau penipuan dan pemalakan.

Setelah lebih 2 jam perjalanan kami sampai juga di Kawah Ijen. Suasana masih sangat gelap karna waktu masih jam 4 dini hari. Dari kejauhan di bawah kawah, terlihat blue fire menari dengan api birunya. Untuk turun ke Kawah dibutuhkan jarak tambahan dan perjuangan lagi. Saya lihat antrian untuk turun sangat panjang, dan rutenya juga cukup terjal dan berhubung udah teler banget, kami bertiga memutuskan tidak turun ke kawah dan cukup puas memandangi blue fire dari kejauhan. Saking capek dan dinginnya, hanya duduk sambil menunggu matahari terbit. Perkiraan suhu saat itu 0 hingga 5 derajat celcius. Baju lapis 3 dengan salah satunya bahan thermal untuk winter plus jaket kulit plus jas hujan plastik yang saya kenakan tidak banyak membantu menghangatkan tubuh.

Rebutan mengelilingi api unggun dari belerang
Rebutan sama bule mengelilingi api unggun dari belerang

Setelah shalat subuh di alam, saya ditemani Pak Roso melanjutkan perjalanan naik ke bagian yang lebih tinggi untuk mencari spot foto yang lebih bagus, kedua anggota lain menghangatkan tubuh dengan api unggun belerang yang disiapkan oleh supir taksi gerobak. Berhubung di awal pendakian Bude Ismi tidak sanggup melakukan pendakian karena kelelahan akibat tidak bisa tidur sebelum pendakian, akhirnya memutuskan naik taksi gerobak ke atas😁

Menikmati sunrise di puncak ijen
Menikmati sunrise di puncak ijen

Ternyata keputusan melanjutkan perjalanan ke puncak tidak sia sia. Pemandangan dari atas sangat spektakuler. Tidak hanya keindahan danau di dalam kawah yang memukau, namun lekuk puncak gunung ijen dengan latar belakang gunung merapi dan jejeran bukit bukit di belakangnya semakin menambah kecantikan kawah ijen.

Sunrise memberikan efek keemasan di puncak gunung
Sunrise memberikan efek keemasan di puncak gunung

Di puncak juga ditemukan hutan dengan pohon pohon kering yang tidak kalah eksotik dan juga tumbuhan gunung (Pak Roso menyebutnya delima merah) juga bisa dijadikan objek foto yang instagramable😍😍

Pohon pohon kering bekas terbakarpun terlihat cantik
Pohon pohon kering bekas terbakarpun terlihat cantik

Di puncak banyak pendaki yang menikmati pemandangan kawah sambil menikmati bekal sarapan yang mereka bawa. Aroma asap belerang tidak terlalu tercium dari puncak ini, sehingga terlihat mereka sangat enjoy berlama lama menikmati pemandangan.

View indah lainnya😍
View indah lainnya😍

Setelah puas menikmati keindahan dan suasana puncak kawah, sayapun melanjutkan perjalanan turun bersama Pak Roso karena kedua teman sudah duluan turun tidak tahan dengan suhu dingin.

Jalur pendakian di puncak ijen
Jalur pendakian di puncak ijen

Sepanjang perjalanan terlihat penambang belerang memikul 2 keranjang berisi batu belerang. Rata rata masing masing keranjang berisikan 40-70 kg belerang yang artinya berat beban sekali angkut berkisar 80-140 kg😱😱 Namun penambang terlihat sangat tenang mengangkut beban berat tersebut.
Ada yang tau berapa tarif angkut per kg belerang tersebut? Hanya Rp. 1.000 per kg. Jika sekali angkut penambang membawa 80 kg berarti mereka hanya memperoleh upah Rp. 80 ribu untuk jarak tempuh sekitar 1 km dengan jalan terjal dari kawah ke puncak. Sebagai gambaran, saya membatalkan melihat blue fire ke kawah karena melihat terjalnya jalanan ke bawah kawah, sedangkan penambang ini mengangkut beban berat tersebut dari kawah ke atas. Rata-rata per hari setiap penambang mampu melakukan 2 hingga 3 kali angkut.

Saya sempat bergurau dengan seorang penambang yang sedang beristirahat dan meminta beliau bergaya untuk foto. Inilah gaya terbaik yang dikeluarkan si penambang belerang😁👍

Gaya keren penambang belerang
Gaya keren penambang belerang

Pada saat perjalanan turun, saya diikuti supir taxi gerobak yang menawarkan untuk menggunakan jasanya ke bawah. Akhirnya luluh juga karena dibujuk terus, ternyata di bawa gerobaknya ke atas dalam kondisi kosong tanpa penumpang hari ini. Kasihan juga jika turun kosong tanpa penumpang berarti tidak memperoleh penghasilan untuk hari tersebut. Lagian saya juga bisa menghemat kaki karena untuk turun juga membutuhkan perjuangan kaki untuk menahan. Banyak pendaki yang menggunakan teknik jalan mundur pada saat turun untuk menghindari cedera otot.

Teknik jalan mundur pasa saat turun
Teknik jalan mundur pada saat turun

Berikut catatan yang bisa saya share mengenai perjalanan ke kawah ijen :
1. Track ke atas cukup bagus dan aman, namun butuh perjuangan cukup berat dan stamina yang prima.
2. Bagi yang tidak terlalu tertarik turun ke kawah untuk melihat blue fire dan hanya ingin melihat pemandangan kawah, saya sarankan naik setelah subuh saja tidak perlu begadang dan menggigil kedinginan. Jadi sesampainya di atas sudah langsung disambut cantiknya Kawah Ijen.
3. Bagi yang tidak terlatih melakukan perjalanan berat/mendaki, pertimbangkan untuk menggunakan taksi gerobak.
4. Terdapat kantin di tanjakan terakhir yang menyediakan minuman hangat
5. Toilet tidak tersedia, disaat darurat bisa melakukannya secara natural alias buang air di alam mencari tempat tersembunyi yang tidak dilalui orang. Pastikan Anda membawa tissue basah.
6. Tidak ada Sinyal hp di atas

Persiapan dan Perlengkapan sebelum mendaki :
1. Pastikan sebelum melakukan pendakian, tubuh cukup istirahat karna rute yang ditempuh dengan berjalan kaki cukup berat dengan waktu tempuh 2-3 jam sesuai kemampuan fisik. Untuk yang sudah terlatih bisa menempuhnya dengan waktu 1 jam.
2. Masker (wajib), jika lupa bisa dibeli masker kain di lokasi atau sewa masker anti polusi dilengkapi filter seharga Rp. 25 ribu.
3. Siapkan busana hangat karena suhu bisa mencapai 0-5 derajat celcius pada dini hari.
4. Sarung tangan (jika lupa bisa dibeli di lokasi harga 15 ribu)
5. Jas hujan plastik untuk antisipasi jika hujan turun pada saat naik karena tidak ada tempat berteduh. Jika lupa bisa dibeli di lokasi harga 15-20 ribu
7. Bawa lampu senter untuk yang ingin melakukan pendakian pada malam hari. Kecuali jika Anda memutuskan untuk menyewa guide yang memiliki perlengkapan lampu senter dengan kemampuan hingga jarak 150 m.
8. Bawa minum, cemilan dan sarapan (bagi yang ingin bersantai lama menikmati pemandangan).
9. Sediakan tissue basah untuk persiapan jika terpaksa buang air di alam✌️😄

Baca juga keindahan alam Indonesia lainnya :

Keindahan kampung Karst Rammang Rammang Makassar


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *